Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Bentuk dan Makna Filosofi Perabot Aksara Jawa

 

BENTUK DAN MAKNA FILOSOFI PERABOT AKSARA JAWA

makalah
disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Semantik




oleh
Sri Rahayu
2601411053
Rombel 2




JURUSAN BAHASA DAN SASTRA JAWA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kebudayaan adalah warisan sosial yang hanya dapat dimiliki oleh warga masyarakat pendukungnya dengan jalan mempelajarinya. Terdapat cara-cara atau mekanisme tertentu dalam tiap masyarakat untuk membuat warganya mempelajari kebudayaan yang didalamnya mengandung norma-norma serta nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam masyarakat.
Para leluhur Jawa selalu berusaha untuk memahami alam kanyatan dan alam kasunyatan. Kemampuan orang Jawa dalam membaca tanda-tanda jaman secara waskitha dan wicaksana diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan manusia sendiri mengacu pada perubahan musim, siklus alam, suara hati, dan sasmita gaib. Segala sesuatunya pasti mengandung maksud tertentu. Angin berhembus dan kicauam burung pun dapat memberi arti, karena termasuk wahana sasmitaning ngaurip.
Dalam masyarakat yang sudah maju, nilai-nilai kehidupan dipelajari melalui jalur pendidikan, baik secara formal maupun nonformal. Lembaga pendidikan merupakan tempat secara formal untuk mempersiapkan diri sebagai warga masyarakat yang menguasai ketrampilan hidup sehari-hari. Di luar lembaga pendidikan formal, warga masyarakat juga mengalami proses sosialisasi terhadap masyarakat dan kebudayaannya.
Filsafat aksara Jawa yang luar biasa perlu diruwat, diaktualisasikan, tanpa menambah atau mengurangi dengan mengubah susunannya (Riyadi, 1996: 28-29). Namun diluar semua gagasan itu, yang pasti dengan kenyataan adanya usaha pengkajian terhadap filsafat dan makna aksara Jawa. Disini penulis akan membahas perabot aksara Jawa.

1.2  Rumusan Masalah
  1. Apa saja jenis-jenis perabot aksara Jawa?
  2. Apakah fungsi dari perabot aksara Jawa?
  3. Bagaimana makna filosofis pada perabot aksara Jawa?
1.3  Tujuan
  1. Mengetahui jenis-jenis perabot aksara Jawa.
  2. Mengetahui fungsi dari perabot aksara Jawa.
  3. Mengetahui makna filosofis pada perabot aksara Jawa.
1.4  Manfaat
Pembahasan ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, yang pertama dari hasil penelitian ini bisa bermanfaat untuk mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan mengenai perabot aksara Jawa. Kedua, dengan penelitian ini dapat menambah ilmu dan wawasan pembaca. Ketiga, penelitian ini bermanfaat untuk merangsang minat penulis lain untuk menggali lebih dalam perabot aksara Jawa.
Secara praktis pembahasan ini mempunyai beberapa manfaat yaitu: pembaca dapat memahami perabot aksara Jawa. Selain itu, pembahasan ini dapat menjadi acuan atau bahan untuk meningkatkan wawasan baru bagi pembaca karena perabot aksara Jawa relevan dengan kehidupan sekarang serta memberikan pencerahan yang mendalam kepada para pembacanya.



BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Perabot Aksara Jawa
Sandangan huruf Jawa berfungsi  atau mengubah bunyi dari huruf mati menjadi sempurna. Artinya manusia yang berwujud wadag menjadi sempurna jika diberi sandangan.
1.2 Jenis-Jenis Perabot Aksara Jawa beserta Maknanya
a.       Sandangan Pangkon atau Pepet
Sandangan ini berfungsi menghilangkan suara asli dari huruf yang dipangku atau mematikan huruf yang dipangku. Sifat mematikan suara asli ngicalake witing swara pada badan manusia terletak pada roh. Hal ini berarti bahwa manusia akan kehilangan sifat kemanusiaannya secara mutlak jika meninggal.
Orang Jawa jika dipangku atau diberi kebaikan akan luntur wibawanya atau kegagahannya serta kekuasaannya akan sirna. Namun, jika dilihat sifat umum dari manusia yang selalu menghargai jasa-jasa orang lain, selalu ingin membalas kasih dari orang lain, ungkapan orang Jawa jika dipangku akan mati, nampaknya tidak benar. Semangat membantu orang lain tidak berarti kita akan memetik dari hasil bantuan itu berupa menurunnya martabat atau kekuasaan orang yang dibantu.
b.      Sandangan Kedua
Yaitu suku, taling, taling tarung, pepet, dan wulu. Kelima sandangan ini berfungsi mengubah bunyi mengikuti huruf yang dibarengi sandangan ini, tetapi tidak mematikan huruf asalnya. Artinya kelima sandangan tersebut merupakan perabot pelengkap utama dalam kehidupan manusia. Manusia yang kedunungan roh saja belum lengkap jika belum diberi sandangan yang lain.
·      Wulu
Bentuk ini menggambarkan permulaan terbentuknya tubuh manusia. Wulu berarti hulu atau amiwiti. Perabot ini terletak di kepala. Manusia hidup kedunungan roh, menurut pemahaman gaib terletak di otak. Otak atau uteg berfungsi mengawali seluruh kehidupan dan sebagai pusat kendali di dalam badan manusia.
·      Suku
Bentuk ini menggambarkan anggota badan sebagai penyangga terutama kaki. Suku juga merupakan adeg-adeging badan manusia. Jika manusia tanpa adeg-adeg atau tanpa anggota badan, ia hidup tetapi tidak sempurna kehidupannya.
·      Taling
Bentuk ini menggambarkan talingan atau telinga. Sandangan ini merupakan perabot manusia yang terletak di telinga. Telinga merupakan kekuatan untuk mendengar. Walaupun manusia memiliki telinga kalau tidak memiliki kekuatan untuk mendengarkan maka akan cacat pendengarannya. Hal itu berarti akan berkurang pula daya pada dirinya.
·      Taling Tarung
Bentuk ini menggambarkan anggota badan manusia yaitu hidung. Sandangan ini merupakan perabot manusia yang terletak dihidung atau perabot manusia berupa kekuatan penciuman. Kekuatan penciuman harus dipunyai manusia agar menjadi semakin sempurna. Hilangnya kekuatan penciuman akan menyebabkan kesulitan dalam membedakan bau busuk dan bau wangi atau tidak dapat membedakan barang yang baik dan barang yang tidak bermanfaat.
·      Pepet
Pepet berarti buntu atau buntet. Organ tubuh manusia yang terpenting dan harus dijaga jangan sampai buntu adalah jantung. Jantung berfungsi sebagai organ pembagi darah ke seluruh tubuh. Sebagai pintu keluar maupun pintu masuknya darah. Harus selalu dijaga jangan sampai tertutup atau buntet.
c.       Sandangan Ketiga
Ada tiga sandangan yaitu cecak, layar, dan wignyan. Ketiga perabot tersebut berfungsi sebagai panyigeging swara dari huruf yang diikuti serta tidak paten. Dengan pengertian ini maka ketiga perabot tersebut sebagai perabot pelengkap penting dalam tubuh manusia. Manusia menjadi kurang berarti jika belum memakai perabot ini.
·      Cecak
Bentuk ini menggambarkan kelengkapan kehidupan manusia berupa budi atau hati sanubari. Perabot ini terletak pada hati manusia. Pada budilah ada pertimbangan-pertimbangan menuju kesempurnaan hidup. Pertimbangan rasa kemanusiaan.
·      Layar
Bentuk ini masih merupakan kelengkapan kehidupan seperti cecak, namun kelengkapan ini lebih mempertimbangkan nilainya yang berupa iman. Iman terletak di pulung hati. Rasa iman mengacu pada keyakinan bahwa kehidupan benar-benar berasal dari Yang Maha Kuasa.
·      Wignyan
Adanya budi, iman yang tergambar pada perabot ini belum cukup, karena pertimbangan rasa belum ada. Oleh karena itu sandangan wignyan adalah rasa pangrasa yang perlu dipunyai manusia. Itu terletak di dalam perut (waduk).
d.      Sandangan keempat
Selain perabot-perabot yang telah diuraikan tersebut, yang terakhir adalah kekuatan penglihatan  yang terletak pada mata. Mata terdapat tiga bagian utama, yaitu bagian paling tengah atau manik yang berada di tengah bulatan kecil, bundaran hitam setelah manik, dan yang terakhir bagian mata yang putih (Kasmanto, 1989: 33).
Perabot huruf Jawa disini ada tiga bentuk yaitu cakra, keret, dan pengkal. Ketiga sandangan itu masing-masing terletakpada manik yaitu cakra, pada bundaran hitam yaitu keret, dan pada putihnya mata yaitu pengkal. Fungsi ketiga sandangan ini sama seperti sifat mata. Jika ada huruf yang berbunyi bersamaan harus menggunakan perabot ini dengan tanpa mematikan huruf yang dibarengi.




BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
            Perabot aksara Jawa merupakan sebagian kecil hasil kebudayaan yang layak untuk dikaji maknanya secara mendalam. Pengertian terhadap perabot aksara Jawa dapat menjadi pegangan bagi siapa saja, khususnya pengertian mengenai hubungannya dengan ilmu tentang asal (sangkan) dan bagaimana akan kemana (paran), yang biasa disebut sangkan paraning dumadi (Sasangka, 1981:11)
3.2 Saran
Dalam kehidupan, masyarakat diharapkan menjaga keseimbangan dalam pencapaian kenikmatan lahir dan batin, yakni keseimbangan kebutuhan fisik dan psikis dalam kerangka yang utuh sesuai kodratnya. Orientasi yang sangat kuat terhadap kehidupan lahir hanya akan menjebak manusia pada pikiran-pikiran praktis dan jangka pendek, sehingga tidak mampu berpikir secara utuh dan jangka panjang. Oleh karena itu, antara kebutuhan lahir dan batin diharapkan saling seiringan sejak awal.


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Endraswara, Suwardi. 2012. Agama Jawa. Yogyakarta: Lembu Jawa.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Purwadi. 2005. Upacara Tradisional Jawa. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Purwadi. 2006. Petungan Jawa. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.
Suratno, Pardi dan Heniy Astiyanto. 2009. Gusti Ora Sare. Yogyakarta: Adiwacana.



Asal Usul Punden Mbok Ndara Den Ayu


Pangeran Sumber Nyawa atau yang disebut Raden Mas Said merupakan anak dari Kanjeng Pangeran Mangkunegara (Kartasura). Sejak kecil sangat akrab dengan penderitaan wong cilik yang menderita karena ulah penjajah Belanda. Pada tahun 1741 ketika Pangeran Sumber Nyawa berusia 16 tahun sampai 16 tahun berikutnya, Pangeran Sumber Nyawa melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda. Sebelumnya, Pangeran Sumber Nyawa berpindah ke Kabupaten Wonogiri, tempat leluhurnya dari pihak neneknya untuk memperkuat pasukan. Lambat laun, pasukan Pangeran Sumber Nyawa semakin bertambah.
Dengan  semboyan tiji tibeh atau mukti siji mukti kabeh mati siji mati kabeh, Pangeran Sumber Nyawa mampu mengomando pasukannya yang berjumlah ribuan. Pangeran Sumber Nyawa pun juga berprinsip Tri Darma, yaitu rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki), wajib melu hanggondheli (berkewajiban ikut mempertahankan), dan mulat sarira hangrasawani (berani melakukan introspeksi diri)
Dalam pertempuran, Pangeran Sumber Nyawa menggunakan strategi perang gerilya dan tiga matra (matra darat, matra laut, dan matra gunung). Wilayah gerilya mencakup wilayah pesisir pantai selatan dan pantai utara, serta seluruh wilayah Gunung Lawu sampai Ponorogo propinsi Jawa Timur. Selama kurun waktu 16 tahun tersebut terjadi banyak peperangan. Ketika perang tidak mampu dihindari dan pasukan Pangeran Sumber Nyawa kocar-kacir, tidak membuat Pangeran Sumber Nyawa patah semangat. Dari Wonogiri menuju ke timur, Pangeran Sumber Nyawa menghindari kejaran kompeni Balanda. Tiba di suatu pemukiman yang sekarang bernama Dusun Jito, permaisuri Pangeran Sumber Nyawa yang bernama Raden Ayu Mangkunegara mengalami pendarahan saat mengandung. Pangeran Sumber Nyawa beserta pasukan istirahat sementara di Dusun Jito untuk pemulihan kesehatan Raden Ayu Mangkunegara sekaligus mempersiapkan strategi dalam melawan kompeni Belanda.
Raden Ayu Mangkunegara merupakan anak dari Kyai Imam yang pada setiap malam Selasa Kliwon atau malam hanggarakasih wajahnya selalu bercahaya. Raden Ayu Mangkunegara aslinya bernama Rubiyah dan mendapat gelar Raden Ayu Kusuma Patahan.
Ketika di Dusun Jito, Raden Ayu disarankan untuk berjalanan dengan berjinjit agar kandungannya tidak mengalami keguguran. “Jinjita jinjita.” Namun, upaya tersebut gagal, Raden Ayu mengalami keguguran. Untuk mengenang upaya penyelaman si jabang bayi, pemukinan warga tersebut dinamakan Jito yang berasal dari kata jinjit. Setelah dirasa kesehatan Raden Ayu membaik, Pangeran Sumber Nyawa mulai melanjutkan perjalanan ke arah timur. Pangeran Sumber Nyawa melewati daerah Tloboledok, yaitu daerah dimana Pangeran Sumber Nyawa melaksanakan kungkum untuk meminta petunjuk. Kemudian, menuju ke timur lagi sampai Dusun Mbubakan. Setelah itu, tidak ada yang tahu ceritanya. Namun, ketika Pangeran Sumber Nyawa meninggal dunia di usia 72 tahun pada tanggal 28 desember 1795, Pangeran Sumber Nyawa dimakamkan di Desa Mangadeg, yaitu di bukit Bangun lereng gunung Lawu kabupaten Karanganyar yang merupakan salah satu tempat Pangeran Sumber Nyawa melakukan tapa.
Lambat laun tempat dimana Raden Ayu mengalami keguguran disebut punden. Awalnya punden tersebut bernama Punden Nyai Tretes yang bermakna tetesing getih. Getih dari orang yang keguguran merupakan darah kotor, sehingga tidak cocok digunakan untuk nama. Karena dirasa tidak nyaman dengan nama tersebut, nama punden berubah menjadi Punden Mbok Ndara Den Ayu. Sampai sekarang pun, warga Dusun Jito menyebutnya Punden Mbok Ndara Den Ayu.
Punden Mbok Ndara Den Ayu ini secara geografis terletak di Dusun Jito, Desa Ngepungsari, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar dengan luas areal sekitar 400 m². Secara garis besar punden memperlihatkan suatu undakan tanah yang keras. Di samping kanan dan kiri undakan tanah terdapat batas kosong yang biasanya digunakan untuk menempatkan saji-sajian. Di depan undakan sendiri biasanya digunakan untuk menghidupkan dupa dan perlengkapan lainnya.
Pintu masuk menuju bangunan ini tepat di depan punden yang menghadap arah selatan, langsung dengan jalan raya.  Untuk masuk ke Punden Mbok Ndara Den Ayu perlu menaiki kurang lebih 20 anak tangga yang terbuat dari semen. Pada bagian samping Punden Mbok Ndara Den Ayu dikelilingi halaman yang mampu menampung warga Dusun Jito ketika mengadakan ritual. Disana juga akan terlihat pagar-pagar bertembok permanen yang catnya sesuai dengan bangunan Punden Mbok Ndara Den Ayu yang bercatkan warna putih.
Punden Mbok Ndara Den Ayu akan semakin tinggi bentuknya dikarenakan banyaknya para warga yang menabur kembang setaman diatas pusaran punden tersebut. Nantinya, taburan yang banyak tersebut lambat laun akan menjadi tanah dan bertekstur keras. Dilihat dari jalan raya, sekilas Punden Mbok Ndara Den Ayu seperti rumah penduduk yang berukuran kecil. Pada malam hari akan terlihat dua lampu berwarna kuning, yang satu berada di pinggir jalan dan yang satunya lagi berada di depan rumah punden.
Sebagian besar masyarakat Dusun Jito, Desa Ngepungsari beragama Islam, namun adat istiadat yang berhubungan dengan religi dari zaman pra-Islam masih terlihat jelas. Dalam kaitannya dengan kepercayaan atau mitos masyarakat sekarang, bangunan Punden Mbok Ndara Den Ayu dianggap sebagai suatu bangunan kuno peninggalan para leluhur yang sangat dikeramatkan. Pernah terjadi suatu peristiwa kesurupan yang dialami salah satu warga Dusun Jito, yaitu ketika warga tersebut melecehkan keberadaan Punden Mbok Ndara Den Ayu. Dengan kejadian tersebut banyak warga Dusun Jito maupun warga sekitar yang menghormati keberadaan Punden Mbok Ndara Den Ayu.
Warga Dusun Jito yang pergi ke Punden Mbok Ndara Den Ayu mempunyai tujuan. Tujuan tersebut antara lain:
  1. Upaya menghormati arwah leluhur,
  2. Mendapatkan kelancaran dalam melaksanakan kegiatan, seperti: mencari rejeki, pembangunan rumah, hajatan,
  3. Menolak bahaya dari ulah manusia maupun bencana karena lingkungan,
  4. Mendapat nikmat sehat,
  5. Rukun dalam bermasyarakat,
  6. Dan lain-lain.
Bentuk penghormatan terhadap Punden Mbok Ndara Den Ayu pun bermacam-macam, antara lain:
  1. Pemberian sesaji
  2. Kirim pundhen
  3. Bersih desa
  4. Pemugaran punden
  5. Mengklakson ketika berkendara melewati Punden Mbok Ndara Den Ayu
  6. Mengucapkan salam ketika memasuki area punden
  7. Bersikap sesuai unggah-ungguh
  8. Dalam keadaan suci
  9. Dan lain-lain
Warga Dusun Jito yang masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan leluhur dan meyakini bahwa adanya arwah leluhur yang mampu mengendalikan kehidupan, ketika akan meminta doa restu, warga  melakukan upacara kecil dengan sesaji yang dilaksanakan tepat di depan Punden Mbok Ndara Den Ayu yang dipimpin oleh sesepuh Dusun Jito. Upacara kecil ini merupakan slametan yang dilakukan perorangan (satu keluarga).
            Hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika akan melakukan upacara kecil di Punden Mbok Ndara Den Ayu, antara lain:
  1. Pemilihan hari yang baik dengan mempertimbangkan weton si pelaksana hajat. Penghitungan hari baik dilakukan oleh sesepuh desa.
  2. Perlengkapan sesaji, yang berupa: kembang setaman, dupa, abu, kemenyan, gula pasir, dan makanan. Makanan tersebut terdiri dari: nasi, ingkung ayam jawa, oseng cabe, kelapa parut yang disangrai, gudangan, bongko, dan air minum. Jumlahnya menyesuaikan dengan warga, namun ketika ada warga lain yang melewati upacara tersebut dianjurkan untuk diundang.
  3. Undangan untuk para warga.
Kirim pundhen merupakan upacara warga Dusun Jito yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ruwah  hari Jumat Wage (kalau  tidak ada hari Jumat Wage diganti hari Jumat Pon). Saat kirim pundhen  juga terdapat saji-sajian yang setiap kepala keluarga wajib membawa (seperti yang dijelaskan di atas). Saat itu pula akan terlihat rukunnya para warga satu dengan warga lainnya.
Sedangkan bersih desa (bersih dusun) merupakan upaya warga Dusun Jito, selain yang disebutkan diatas juga sebagai upaya penyelaras segala aspek kehidupan. Bersih desa diadakan setiap tiga kali setahun dengan menampilkan tari Tayub. Tari Tayub merupakan tarian yang disukai oleh Sri Mangkunegara (Pangeran Samber Nyawa). Tidak hanya warga Dusun Jito yang merasakan, tetapi warga dari dusun sekitar juga sangat menyambut hari gembira tersebut.
Tari Tayub sendiri merupakan tarian untuk upacara pubertas, kematian, kesuburan, perkawinan, pekerjaan, pengobatan, tontonan, dan sebagainya dengan memperlihatkan unsur keindahan dan keserasian gerak yang terdiri dari sindhen, pengrawit, dan penari. Tari Tayub menggambarkan pergaulan yang disajikan untuk menjalin hubungan sosial masyarakat. Sehingga tidak heran ketika Pangeran Sumber Nyawa berada di Dusun Jito menyajikan Tayuban untuk menarik simpati para warga agar berada di pihaknya dan tidak terpengaruh dari para kompeni Belanda.
Umumnya ketika menampilkan tari Tayub dibarengi dengan minum-minuman keras, tetapi ketika bersih desa di Dusun Jito tidak. Para warga mengetahui bahwa Pangeran Sumber Nyawa merupakan tokoh yang religius, yang taat dengan agama Islam. Terbukti di tengah perlawanan yang dilakukan, Pangeran Sumber Nyawa berhasil menyalin 30 juz ayat suci Al-Qur’an sampai delapan kali dengan tulisannya sendiri.
Bersih desa tersebut biasanya dimulai pada sore hari sekitar pukul 15.00 waktu setempat sampai menjelang sholat Magrib. Orang yang masuk ke area punden, sebelumnya wajib mandi besar. Bagi warga yang berhalangan, disarankan untuk berada di pinggir jalan. Dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena pada saat itu disinyalir banyak roh-roh jahat yang akan mengganggu acara ritual bersih desa.
Punden yang berdiri sejak jaman penjajahan Belanda, perlu adanya pemugaran sebagai salah satu upaya penghormatan adanya Punden Mbok Ndara Den Ayu. Cara yang dapat dilakukan oleh warga Dusun Jito adalah dengan pebangunan rumah kecil yang permanen. Bentuk dan ukuran disesuaikan dengan lebar punden itu senriri. Disekililing rumah punden tersebut, halaman juga diratakan dengan semen dan ditepinya di bangun pagar tembok dengan tinggi kurang lebih setengah meter.
Untuk perawatan setiap harinya, ada sejumlah warga yang dengan sukarela membersihkan area Punden Mbok Ndara Den Ayu. Dalam upaya membersihkan punden, umumnya kotor karena daun-daun yang berguguran. Untuk sampah-sampah lain sangat jarang ditemui, karena warga Dusun Jito tidak ada yang berani membuang sampah sembarangan. Mereka percaya bahwa menjaga kebersihan adalah kewajiban setiap orang yang perlu ditanam dalam hati.
Punden Mbok Ndara Den Ayu dengan punden-punden lainya mempunyai perbedaan yang mencolok, perbedaan tersebut antara lain:
1.      Punden pada jaman pra-sejarah umumnya dilengkapi dengan menhir, batu datar, maupun benda lainnya. Namun, Punden Mbok Ndara Den Ayu tidak dilengkapi.
2.      Punden-punden di sekitar Dusun Jito umumnya berupa pohon besar berumur puluhan tahun yang dikeramatkan. Namun, Punden Mbok Ndara Den Ayu merupakan makam dari keturunan Kraton Surakarta.
3.      Punden umumnya berada jauh dari pemukiman warga. Namun, Punden Mbok Ndara Den Ayu terletak di tengah-tengah Dusun Jito yang tepat berada di jalur Kecamatan Jatiyoso-Jatipuro dan jalur Kecamatan Ngadirojo-Jatipuro, sehingga aksesnya sangat mudah dijangkau.
4.      Punden Mbok Ndara Den Ayu merupakan punden dengan umur yang relatif muda, yaitu punden pada masa penjajahan Belanda.

Punden Mbok Ndara Den Ayu juga dipercayai, bahwa tidak ada seekor burung berani terbang di atas punden tersebut. Punden Mbok Ndara Den Ayu seakan-akan mempunyai daya magic yang kuat yang tidak mampu dilihat kasat mata oleh sembarangan orang.