Tampilkan postingan dengan label Tradisi Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi Jawa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juni 2014

Ular-Ular Adicara Mantu Adat Jawa



Assalamu’alaikum wr.wb.
Para tamu kakung putri saha para pinisepuh-sesepuh sedaya, awit mundhi dhawuh saking pamengku gati ingkang anak kula piyambak Bp. Tri Purnomo sekaliyan supados paring ular-ular/sabdatama dhumateng putu/wayah kula Sri Penganten Dani Afianto lan gendhuk ayu Eva Maseta ing pangangkah supados gesangipun mangke saged bagya mulya guyub rukun ngantos kaken-kaken ninen-ninen. Amiin.
Ngger putuku sakloron Eva lan Dani, Mbah Putri arep paring ular-ular marang sliramu sekaliyan. Wong omah-omah kuwi ora gampang. Tumrap wong kakung wong omah-omah kuwi kudu nyiriki 3 (telung) perkara yaiku: mada, maido, lan madhak-madhakake.
Mada kuwi tegese seneng nacad. Contone wong putri ana ngomah wis nyambut gawe abot, kayata resik-resik omah, umbah-umbah, ngrumati bocah, lsp. Ewodene isih dicacad karo wong lanang. Lha, mengko kuwi wong wadon serik banget, lha wekasane dadi kogel atine.
Maido tegese ora percaya, luwih-luwih bab ngecakne dhuwit. Garwamu sing mbok paring dhuwit saben wulane wis ngati-ati banget anggone ngecake. Ya kanggo kebutuhan ajeg sabendinane, ya kanggo nyumbang, kegiatan sosial, lsp. Lha bareng entek mbok paido. Contone. “Dhasar wong wedok boros, ora pinter ngatur dhuwit.” Lha mengkono kuwi serik atine. Mula aja gampang maido ya, Dan.
Luwih-luwih madhak-madhakake karo bojone liyan. Contone “Wong ki mbok kaya Bu Nanik kae, dhasare wong ayu lan ngajeni, yen macak luwes tur pinter, lha bareng kowe jal? Lha kaya mangkono wong wadon uga serik. La yen serik, rumah tangggane dadi ora harmonis, wekasane dadi ringkih.
Semana uga marang putuku Eva. Wong wadon kuwi kudu gemi, nastiti, ngati-ati.
Gemi kuwi tegese ora gampang ngetoke wragat sing ora penting. Wose wong wadon kuwi aja boros. Yen boros kuwi padha karo kancane syetan.
Nastiti kuwi tegese ngerti nyang etungan, aja nganti gampang emosi terus ngetoke dhuwit sak penake dhewe.
Ngati-ati tegese bisa ngormati asile sing kakung, sebab sing golek asil kuwi ya wong kakung.
Sing baku maneh kakung putri sabendinane kudu mat-sinamadan, asih-ingasihan, kareben rumah tanggane bisa tentrem guyub rukun, nganti kaken-kaken lan ninen-ninen. Amiin.
Anakku Eva lan Dani, tak kira cukup semene wae mbah putri anggone paring wejangan marang sliramu kabeh, muga-muga padha ngestokna.
Nuwun sagunging para lenggah kakung miwah putri ingkang kinurmatan. Mekaten sekedhik anggen kula paring sesorah/ular-ular dhumateng wayah kula sri penganten mugi-mugi migunani. Panutuping atur: kupat janure klapa, menawi lepat nyuwun pangapura. Nuwun.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Midodareni

Midodareni adalah salah satu rangkaian acara pernikahan Jawa yang dilaksanakan pada malam sebelum dilaksanakannya ijab dan qabul. Kata midodareni berasal dari kata widodari yang berarti “bidadari”. Banyak orang yang berpendapat, bahwa pada malam itu para bidadari surga mengunjungi rumah calon penganti wanita untuk memberikan berkah dan mempercantik calon pengantin wanita. Pada malam midodareni utamanya digunakan untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar acara pernikahan keesokan harinya dapat berjalan lancar dan mendapatkan berkah. Para sesepuh, sanak saudara, maupun tetangga juga dimintai doa restu untuk kelancaraan esok hari.
Di malam midodareni tersebut, calon pengantin wanita hanya berdandan tipis-tipis dan berada di dalam kamar. Calon pengantin wanita hanya ditemani oleh sepupu atau temannya. Pada umumnya, di malam tersebut para sesepuh memberikan wejangan yang akan berguna bagi kehidupannya setelah menikah nanti.
Pada malam midodareni pula calon pengantin pria dan wakil dari keluarga juga berkunjung ke rumah calon pengantin wanita. Namun, tidak boleh menemui calon pengantin wanita. Hal tersebut dilakukan karena diikhawatirkan nantinya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Adapun tujuan mereka berkunjung, antara lain :
1. Memberitahu bahwa calon pengantin pria telah siap untuk menikah dengan calon pengantin wanita keesokan harinya.
2. Calon pengantin pria dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.
3. Keluarga calon pengantin pria telah siap untuk menjadi bagian dari keluarga calon pengantin wanita.
4. Calon pengantin pria siap mendapatkan wejangan dari pihak keluarga calon pengantin wanita.
5. Ingin mengetahui persiapan keluarga calon pengantin wanita untuk acara keesokan harinya.

Pada malam tersebut, calon pengantin wanita juga ditanyai tentang kemantapannya untuk dinikahi calon pengantin pria pada keesokan harinya. Ketika calon pengantin pria dan wakil dari keluarganya akan pulang, salah satu keluarga calon pengantin wanita memberikan kancing gelung ataupun keris kepada calon pengantin pria. Diharapkan hal tersebut dapat membantu dalam menjalani hidup berumah tangga.

ilustrasi gambar: http://www.kenscollections.com/

Nyekar


Didalam masyarakat Jawa terdapat banyak kegiatan-kegiatan yang khas. Salah satu kegiatan tersebut adalah nyekar atau ziarah kubur. Nyekar berasal dari kata “sekar”, yaitu bunga. Nyekar dapat dilakukan kapan saja. Namun, pada umumnya nyekar dilakukan tepat dihari orang yang kita ziarahi meninggal, atau saat mempunyai hajat, menyambut datangnya bulan Ramadhan, sebelum atau setelah Idul Fitri, saat bermimpi orang yang meninggal tersebut, dan sebelum berpergian jauh; seperti merantau. Nyekar dilakukan untuk menghormati dan mendoakan orang yang sudah meninggal, sebagai salah satu bentuk bakti kita kepada orang yang sudah meninggal tersebut dan sebagai pengingat bahwa masih ada kehidupan lain setelah di dunia, yaitu akhirat.
Nyekar yang biasa dilakukan adalah dengan menabur bunga. Sebelum pergi ke makam, terlebih dahulu menyiapkan bunga (lebih baik jika ada tujuh rupa), air, dan pendel. Menggunakan bunga, karena untuk memberikan efek wangi pada sekitar makam, air untuk membasahi makam agar tumbuhan yang hidup sekitar makam tidak kekeringan dan keharuman bunga tadi sampai kedalam tanah, dan pendel untuk memberikan kesejukan. Ada juga orang yang membawa sesajen dan membakar menyan dengan ditaburi gula pasir dan dengan dibacakan doa-doa Jawa, yang pada saat ini hanya sesepuh desa yang bisa. Saat membawa bunga campuran tersebut, dilarang menciumi baunya, karena akan mengurangi keharumannya dan merupakan sikap yang tidak hormat. Dianjurkan juga saat berangkat dan pulang tidak pada satu jalur yang sama, hal tersebut dilakukan agar kita bisa mengenal wilayah sekitar dan berani mengambil keputusan yang berbeda. Ketika sampai didepan area makam, langkah pertama ketika masuk adalah menggunakan kaki kanan dan sebaliknya ketika pulang menggunakan kaki kiri, karena niat baik diawali dari kanan dan kiri untuk mengintrospeksi diri. Bagi wanita yang sedang haid dilarang memasuki area makam, karena dalam keadaan tidak suci dan kosong. Takutnya nanti ada hal-hal yang tidak diinginkan, seperti  kemasukan makhluk gaib.
Banyak orang yang salah mengartikan nyekar, biasanya mereka pergi ke makam dengan membawa sesajen yang bertujuan tidak untuk mendoakan akan tetapi untuk meminta sesuatu harapan, padahal itu salah. Orang yang sudah meninggal tidak bisa berbuat apa-apa bagi kehidupan orang yang masih hidup. Orang meninggal hanya membutuhkan doa, terutama doa seorang anak.
            Pada perkembangan jaman saat ini dan berkembangnya ajaran Islam yang semakin pesat, ziarah kubur dilakukan dengan mendoakan saja, tidak dengan menabur bunga maupun membawa sesajen, karena merupakan sikap boros. Memperindah makam pun juga merupakan sikap boros. Daripada biayanya untuk membeli ataupun memperindah makam lebih baik untuk keperluan yang lebih penting lagi. Apalagi jika kita dalam keadaan serba kekurangan dan menganggap bahwa nyekar sebuah kewajiban, tentu akan semakin terbebani.

Mendoakan orang yang sudah mati pun bisa dilakukan di rumah, yang terpenting adalah niat kita untuk mendoakan orang yang sudah meninggal tersebut, agar segala dosa-dosanya terampuni. Lebih baik lagi, jika kita mendoakannya setiap hari. Kita juga bisa bersedekah dengan niat untuk orang yang sudah meninggal tersebut maupun menjalankan wasiatnya, sebagai bentuk bakti kita. 


ilustrasi foto: http://www.diaryofaproductjunkie.com/